Kata-Kata motivasi

  • Kita selalu memposisikan diri dalam kebahagian, padahal kebahagian diraih melalui proses bagaimana kita posisikan diri kita sendiri.
  • Pikiran positif timbul disaat kita pada posisi aman dan nyaman tapi bagaimana kita memposisikan pikiran positif dalam segala keadaan itulah manusia bijaksana
  • Awal kehancuran diri adalah disaat sifat egois selalu muncul dan tidak bisa dikompromikan dengan lingkungan sosial sekitar kita.
  • Suatu keinginan disaat tidak tercapai maka ada rasa yang membuat menurun semangat kita, tapi itu sebenarnya adalah hasil yang akan sangat sempurna disaat kita tetap dengan semangat dan keinginan yang sudah kita rancang sebelumnya.
  • Hal yang sering membuat manusia cepat putus asa adalah keinginan yang harus dicapai harus ada hasilnya dan nyata, tapi manusia tidak menyadarinya Allah lebih tahu apa yang menjadi keinginan manusia, Allah memberikan bukan apa yang kita inginkan tapi apa yang kita perlukan
  • Kekuatan terbesar manusia adalah disaat kondisi terjepit, maka dia akan keluarkan segala kemampuannya untuk keluar dari masalah
  • Masalah bisa menjadikan kekuatan yang sangat besar, ibarat busur yang anda pegang kuat kuat dan kita umpamakan busur adalah masalah, seberapa lama sanggup anda pegang terus bahkan bisa jadi bumerang buat anda.tapi begitu anda lepaskan maka akan menjadi kekuatan yang besar.
  • Ada dua pilihan dalam hidup anda manjadi manusia biasa atau luar biasa, kalau anda sudah menentukan menjadi yang biasa cukup hanya menjadi pengikut (follower) tanpa ada tantangan hidup, tapi kalau anda menentukan menjadi yang luar biasa bersiap siaplah menghadapi , tantangan, cobaan,duka dan sakit. tapi hasil akhirnya adalah kesuksesan
  • kegagalan merupakan alat ukur untuk menuju keberhasilan, dengan adanya kegagalan maka akan tahu kalau sejauh mana kita sudah berhasil
  • Keyakinan diri sangat menentukan langkah hidup anda maka selalulah mempunyai keyakinan yang kuat
  • Jadikan kelemahan anda sebagai kekuatan untuk menuju sukses
  • Yang menentukan berhasil tidaknya suatu cita cita,  diri sendiri andalah yang sangat menentukan, kemana akan anda bawa, kearah keberhasilan atau kegagalan
  • Kemampuan diri anda akan bangkit disaat kita selalu memberi semangat pada diri anda sendiri dan selalu memberikan hasil positif sehingga sangat mempengaruhi keberhasilann anda
  • Apa makna arti keberhasilan buat anda tergantung dari mana anda memandang, berhasil buat anda belum tentu berhasil buat orang lain. Jadi mulai sekarang buatlah parameter keberhasilan karena itu patokannya buat anda
  • Pada dasarnya setiap manusia diciptakan sebagai orang yang sukses tapi berhasil tidaknya mencapai kesuksesan tergantung dari seberapa kuat atau mampu meng”upgrade” diri atau menyakinkan diri sendiri untuk sukses
  • Kita adalah makhluk energi yang selalu memancar energi kesegala arah, maka mulai sekarang selalu berfikir positif , melangkah positif dan pancarkan kekuatan positif pada diri anda maka hasilnya akan positif memancarkan disekeliling kita. begitu sebaliknya
  • Apa yang anda fikirkan lalu anda lakukan dengan keyakinan dan kesungguhan lalu anda selalu bayangkan dibarengi kemauan yang kuat maka kenyataan akan datang ditangan anda
  • Gunakan kekuatan pikiran anda dengan penuh keyakinan bahwa setiap apa yang anda lakukan yakini bahwa hasilnya maksimal, apabila belum maksimal lakukan dengan cara yang berbeda.

Kata-Kata Positif, Gelombang Epsilon, dan Hidup Sehat Bahagia

Law Of Attraction (LOA)

Menurut teori LOA (Law of attraction) apa yang menguasai fikiran seseorang cenderung menjelma jadi kenyataan, fikiran negatif akan menarik kejadian negatif, fikiran positip akan menarik kejadian positif pula. Inilah yang menyebabkan orang kaya bertambah kaya, orang miskin bertambah miskin. Orang kaya selalu berfikir tentang kekayaan dan hidup berlimpah, sedang orang miskin selalu berfikir tentang kesulitan, kemelaratan dan kemiskinan.begitu juga dengan kesuksesan apabila kita yakin dengan langkah kita maka sukses juga akan mengikuti keyakinan pada diri kita karena kita sudah menyebarkan energi positif pada diri kita maka secara otomatis energi ini juga akan memancarkan kesekeliling kita.
 ingat bahwa manusia adalah makhluk energi, akan berpengaruh pada sekelilingnya. Semua yang difikirkan akan menarik hal yang sama dengan apa yang difikirkan. Keburukan menarik keburukan dan kebaikan menarik kebaikan, kesuksesan menarik kesuksesan dan apabila kita berfikir selalu gagal dan tidak yakin maka hasilnya pun akan demikian. 

Law Of Attraction adalah suatu hukum tarik menarik.. jadi apa yang kamu fikirkan itu yang kamu dapatkan.. jika kamu memikirkan kegagalan dan kesedihan.. maka itu lah yang akan kamu dapatkan.. namun sebaliknya jika kamu memikirkan kesuksesan dan kebahagiaan maka itu pula yang akan kamu dapatkan,, maka katakan lah BISA!! maka kamu pun BISA!!karena disaat kamu berfikir dan yakin kamu BISA!! alam pun akan mendengar dan bereaksi.. maka hal2 yang positiflah yang akan kamu Tarik..

Hukum tarik menarik merespon pikiran anda terlepas dari apapun pikiran tersebut.
Anda adalah magnet paling kuat disemesta dari dalam diri anda terdapat sebuah magnet yang lebih kuat daripada segala sesuatu yang ada didunia, dan daya magnet yang tidak terbayangkan ini dipancarkan melalui pikiran pikiran anda.
jika anda ingin mengubah sesuatu dalam hidup anda, ubahlah saluran frekwensi dengan merubah pikiran anda.

   Tidak mudah mengendalikan fikiran untuk selalu memancarkan gelombang positip. Konon kabarnya fikiran selalu bergerak dan berubah sebanyak 60.000 kali dalam sehari-semalam. Fikiran tidak pernah diam, ia selalu bergerak berubah setiap saat,dan selalu merekam semua kejadian perdetik,  bahkan ketika kita tidur fikiran tetap bekerja, ia tidak pernah diam.bahkan dalam pikiran bawah sadar kita yang merupakan bank memori selalu menyimpan semua kegiatan, semua kata kata baik itu buruk ataupun baik, maka hati hati dengan jalan pikiran kita. 

Bagaimana mungkin kita mengedalikannya agar tetap berfikir pada hal yang positip? Kita hanya bisa mengetahui bahwa fikiran kita sedang memancarkan gelombang positip atau negatif dari perasaan kita. Ketika kita sedang merasa kecewa, jengkel, sedih, cemas, tertekan itulah saatnya fikiran memancarkan gelombang negatif yang tentunya akan menghadirkan kejadian negatif pula dalam hidup kita. Ketika kita merasa nyaman, bahagia, tentram, sejahtera, hidup berkelimpahan itulah saatnya fikiran kita memancarkan gelombang positip yang tentunya akan menghadirkan kejadian positip pula dalam kehidupan kita.Untuk mendapatkan fikiran dan perasaan positip banyak cara dilakukan antara lain dengan latihan meditasi, relaksasi, hipnoterapi, yoga, terapi music dan lain lain.

 Selalu berfikir positif dan benar adalah salah satu cara untuk mengendalikan fikiran dan perasaan untuk tetap memacarkan gelombang positip. yakini setiap apapun kejadian yakinlah pasti hasilnya positif .   . Bahkan, Anda sadari atau tidak, suka atau tidak, maka LOA tetap bekerja untuk kehidupan Anda.Jika diibaratkan, dengan menerapkan LOA, seolah kita menjadi sebuah magnet yang akan menarik bahan dan sumber daya yang diperlukan untuk mewujudkan apa yang kita inginkan. Kita masih tetap perlu untuk bertindak menyusun bahan dan sumber daya tersebut sehingga menjadi apa yang kita butuhkan. Dari berbagai uraian buku-buku tentang LOA, bisa dikatakan bahwa LOA sebenarnya bekerja berdasarkan berbagai program pikiran,keyakinan dan hasil di dalam pikiran bawah sadar kita. , maka LOA bisa membantu meraih keinginan kita . 

  Terlepas teori mana yang Anda yakini, semuanya tetap memerlukan tindakan. Namun bukan berarti LOA tidak perlu, LOA akan menjadikan tindakan kita menjadi lebih terarah dan efektif                   Maka diseminar ini akan kita bahas dan kita bedah bagaimana Low Of Attraction bekerja
disadur dari berbagai penulis dan buku

 

Kata-Kata Positif, Gelombang Epsilon, dan Hidup Sehat Bahagia

Oleh: Relon Star*

“Orang yang mencoba melakukan sesuatu namun gagal,

adalah jauh lebih baik daripada mereka yang tidak

mencoba apa pun, namun berhasil”

~ Lloyd Jones

 

Tidak ada seorangpun yang mau gagal. Bahkan tidak ada orang yang merancangkan kegagalan singgah di hidupnya. Namun terkadang kita perlu memiliki sedikit kisah tentang kegagalan hidup, supaya berkaca dari kegagalan dan mengambil langkah yang lebih cerdas untuk membenahi kehidupan kita.

Aku termasuk dalam deretan orang yang pernah gagal. Bahkan gagal dalam rentang waktu yang cukup lama yaitu selama tujuh tahun. Entah kenapa, orang sealim diriku (ehem!) bisa terlibat jauh dalam dunia narkotika dan obat-obatan terlarang. Padahal, menurut guruku di sekolah, aku ini termasuk anak yang cerdas loh! Bahkan suatu kali guru Bahasa Indonesia pernah berusaha menjebakku dalam sebuah ujian harian. Ia memberikan pertanyaan yang sangat sulit, supaya aku tidak bisa menjawabnya. Namun di luar dugaan, semua pertanyaan bisa kujawab. (Ini pengakuan beliau ketika aku menjumpainya untuk diwawancara seputar kisahku dulu semasa sekolah, demi keperluan penulisan buku perdanaku).

Menjadi orang gagal selama tujuh tahun, cukuplah membuatku jera. Ketika teman-temanku yang lain sudah menginjak bangku kuliah, aku masih bingung bin bengong jika ditanya soal masa depan. Tak seorang pun sependapat bahwa aku bisa memiliki masa depan gilang gemilang. Tetapi untunglah penulis skenario hidupku membuat kisah yang berbeda dalam hidupku. Karena setelah aku putar haluan—dari seorang mantan morfinis menjadi penulis—kini hidupku berbeda. Bahkan kegagalan tersebut kini menjadi harta karun yang berharga bagiku, karena melalui kisahku berjuang lepas dari jerat candu narkoba, kini aku dapat memperkaya iman orang lain yang merasa hidupnya hancur, tapi merasa punya teman: seorang mantan morfinis … yang kini sukses menjadi penulis.

Kalau Anda mau menambahkan diriku dalam daftar teman Anda, silahkan saja. Asalkan Anda terinspirasi dengan kisahku, dan mulai menciptakan kisah sukses Anda sendiri … yang pernah gagal tetapi bisa bangkit kembali.

Anda tidak dapat menghubungkan titik demi titik di dalam kehidupan ini dengan melihat ke depan. Anda hanya dapat melihat titik-titik tersebut terhubungkan ketika Anda melihat ke belakang. Anda mungkin tidak memahami kegagalan demi kegagalan saat ini, tetapi percayalah suatu saat nanti Anda akan sangat mengerti dan menghargai nilai dari kegagalan.

Ingatlah, kegagalan adalah sukses yang tertunda. Dan, setiap kegagalan adalah batu loncatan penting untuk sebuah kesuksesan, semua bergantung pada bagaimana Anda melihatnya.

Kalau Anda menyebutkan satu nama dari seseorang yang sudah sukses sekarang, coba perhatikan dengan seksama bagaimana kehidupannya … tentu ia pernah mengalami kegagalan. Bahkan mungkin daftar kegagalannya lebih banyak dari yang kita ketahui, dan yang kita sendiri pernah alami.

Kalau kita mau jujur, kegagalan dapat memberikan sumbangsih yang besar bagi kita jika mau mengambil makna dari kegagalan tersebut, lalu mengambil langkah yang lebih cerdas untuk mencetak sukses di masa mendatang.

Berapa banyak orang di dunia ini yang pernah mengalami kegagalan, namun ketika ia bangkit dari keterpurukan, maka ada masa depan baru di hidupnya. Aku salah satunya. Kini aku menyikapi kegagalan dengan pandangan yang berbeda. Bahkan aku menyulap kegagalanku ini menjadi harta karun yang berharga, karena banyak orang yang terinspirasi begitu mendengar kisah hidupku. Tanpa adanya kisah masa gelapku, aku tidak dapat bercerita banyak tentang kisah suksesku kini, karena ceritanya diawali dari masa gagal selama tujuh tahun.[rs]

 

Kata-Kata Positif, Gelombang Epsilon, dan Hidup Sehat Bahagia

Para pembaca tentu pernah mendengar atau membaca buku populer berjudul The True Power of Water dan The Secret Life of Water yang ditulis oleh Masaru Emoto, peneliti dan pemikir independen Jepang. Dalam kedua buku tersebut, Masaru Emoto memperlihatkan efek dari doa, pikiran, lagu, dan kata-kata positif yang dapat membuat bentuk kristal air yang jelek, atau biasa saja menjadi kristal hexagon yang indah.

Berikut ini saya kutip kembali kata-kata positif yang digunakan oleh Masaru Emoto dalam melakukan eksperimennya.

Kata-kata Positif:

  • Kebahagiaan: Kristal dengan bentuk yang seimbang nyaris sempurna, seperti berlian yang dipotong dengan amat teliti.
  • Terima kasih: Kristal dengan bentuk teratur yang indah tidak ada tandingannya.
  • Cinta dan terima kasih: Kristal indah yang sangat menyentuh hati.
  • Kamu cantik: Kristal yang indah dan alami.
  • Suka: Kristal yang menggambarkan hati yang gembira.
  • Tulus: Terbentuk kristal yang sangat besar, seolah-olah memberi kekuatan yang sangat besar untuk menyelesaikan sesuatu.
  • Damai: Kristal berbentuk mirip seperti orang-orang yang berkumpul dalam harmoni.
  • Kebersamaan: Muncul kristal yang dibentuk oleh dua kristal.
  • Kedamaian pikiran: Membentuk kristal yang membesar dan meluas.
  • Cinta suami istri: Saling mengasuh dan mengasihi.
  • Bagus sekali: Terbentuk kristal indah merekah bebas.
  • Rileks: Terbentuk kristal dengan bentuk bebas dan bertumpuk.
  • Tenang: Terbentuk kristal dengan bentuk bebas dan cantik. Kata ‘tenang’ dalam bahasa Jepang adalah kiraku yang artinya menikmati energi Ki (energi Qi atau Chi).

Kata-kata Negatif:

  • Ketidakbahagiaan: Kristal yang samar dan lemah.
  • Cobalah menjadi cantik: Kristal yang kurang sempurna.
  • Benci: Bentuk kristal yang berlubang, seperti tercekik.
  • Kekuasaan: Kristal unik yang berantakan.
  • Ketidakberdayaan: Terbentuk kristal yang berlubang.
  • Kamu tolol!: Kristal yang bentuknya tidak beraturan seperti angin puting beliung.
  • Perang: Kristal seperti tertabrak pesawat jet.
  • Harta benda dan modal: Keseimbangan hilang, muncul kekacauan.
  • Minyak: Keseimbangan hilang, muncul kekacauan.
  • Penderitaan: Terbentuk kristal yang tidak sempurna.
  • Tidak berguna: Terbentuk kristal bulat yang berlubang tidak sempurna di tengahnya.
  • Stres: Terbentuk kristal dengan kesan tertekan dan takut.
  • Khawatir: Terbentuk kristal dengan bentuk yang mirip dengan stres di atas.

 

Dari hasil eksperimen Masaru Emoto di atas, terlihat besarnya pengaruh kata-kata positif terhadap kristal air. Tubuh manusia terdiri dari 70 persen air. Demikian pula dunia juga terdiri dari 70 persen air dan 30 persen daratan. Dengan demikian, doa, lagu, dan kata-kata positif juga akan mempunyai pengaruh positif bagi manusia dan dunia.

 

Frekuensi Gelombang pada Bandulan Jam

Dari analisis Energi 5 Elemen, kata-kata mempunyai frekuensi tertentu. Kata-kata positif seperti pada contoh di atas akan mempunyai frekuensi rendah, yaitu 1/6 Hz sampai 1 Hz, dan kata-kata negatif akan mempunyai frekuensi tinggi, yaitu di atas 1 Hz, dari 2 Hz sampai 19 Hz.

Untuk memahami frekuensi ini, kita bisa melihat bandulan jam antik. Satu kali gerakan bolak-balik ke kiri dan ke kanan dari bandulan dengan periode 1 detik identik dengan frekuensi 1 Hz. Bila bandulan bergerak lebih lambat, berarti frekuensinya semakin lambat. Bila bergerak lebih lambat 2 kali, maka frekuensinya menjadi ½ Hz. Bila bergerak lebih lambat 3 kali, maka frekuensinya menjadi 1/3 Hz. Sebaliknya, bila bandulan bergerak lebih cepat, berarti frekuensinya semakin cepat. Bila bergerak lebih cepat 2 kali, maka frekuensinya menjadi 2 Hz. Bila bergerak lebih cepat 3 kali, maka frekuensinya menjadi 3 Hz.

Otak dan pikiran manusia juga mempunyai frekuensi. Dalam kondisi tenang, otak akan mempunyai frekuensi lambat 1 Hz sampai 1/7 Hz. Dalam kondisi tidak tenang, aktif, atau stres, otak akan mempunyai frekuensi cepat 2 Hz sampai 19 Hz.

 

Penemuan Gelombang Epsilon dan Frekuensinya

Para peneliti telah melakukan penelitian untuk melihat hubungan antara frekuensi gelombang otak dengan kondisi aktivitas otak, meditasi, kebahagiaan, dan inspirasi. Sebelum gelombang Epsilon ditemukan oleh Dr. Jeffrey D. Thompson, D.C., B.F.A. dari Neuroacoustic Research, para peneliti gelombang otak telah menemukan gelombang Delta, Theta, Alpha, Beta, dan Gamma. Gelombang Delta mempunyai frekuensi yang paling rendah, yaitu 1 Hz ~ 4 Hz. Disusul oleh gelombang Theta dengan frekuensi 4 Hz ~ 7 Hz, gelombang Alpha 8 ~ 12 Hz, gelombang Beta 12 ~ 19 Hz, dan gelombang Gamma di atas 19 Hz ~ 70 Hz.

Gelombang Epsilon yang terakhir ditemukan mempunyai mempunyai frekuensi sangat rendah dan lebih rendah dari gelombang Delta, yaitu ½ Hz atau lebih rendah. Menurut hasil penelitian tersebut, pengaruh gelombang Epsilon pada otak mempunyai korelasi dengan:

  • Kondisi yang meningkatkan koordinasi aktivitas otak kiri dan otak kanan
  • Kondisi meditasi yang sangat hening
  • Kondisi kesadaran yang bahagia
  • Kondisi inspirasi tingkat tinggi.

Kesimpulannya, semakin rendah frekuensi otak akan membuat pikiran menjadi semakin tenang, semakin jernih, semakin hening, semakin inspiratif, dan semakin bahagia.

 

Gelombang Epsilon dan Frekuensi Sehat Ideal untuk Otak

Dari analisis energi 5 Elemen, batas frekuensi sehat untuk otak adalah 1 Hz. Di atas 1 Hz, otak akan mengalami stres. Semakin tinggi frekuensinya, orang akan semakin stres. Hal ini dapat dimengerti bila kita memahami frekuensi sehat pada masing-masing elemen.

Setiap elemen pada tubuh kita mempunyai frekuensi sehat masing-masing, yaitu:

  • Elemen keenam Kesadaran: 1/6 Hz
  • Elemen kelima Ether: 1/5 Hz
  • Elemen keempat Udara: 1/4 Hz
  • Elemen ketiga Api: 1/3 Hz
  • Elemen kedua Air: 1/2 Hz
  • Elemen pertama Bumi: 1 Hz

Frekuensi sehat yang ideal untuk otak adalah 1/5 Hz, 1/6 Hz, dan 1/7 Hz, karena otak berada pada elemen kelima Ether dan elemen keenam Kesadaran. Analisis ini sesuai dengan hasil penelitian gelombang Epsilon dari Dr. Jeffrey D. Thompson. Hal ini berarti, semakin rendah frekuensi otak, otak akan menjadi semakin jernih, semakin hening, stres hilang, kita menjadi semakin bahagia, dan inspirasi serta ide yang kita peroleh, kualitasnya akan semakin baik pula.

 

Efek Kata Positif dan Negatif pada Frekuensi Gelombang Otak dan Emosi

Pada tanggal 14 Agustus 2009 yang lalu, pada acara The Master di RCTI, ada pertunjukan kolaborasi antara Romy Rafael dengan Denny Darko. Ada dua sukarelawan yang bersedia maju ke depan. Kedua sukarelawan ini sama sekali dalam kondisi sadar dan tidak dihipnotis. Sukarelawan yang pertama mendapat sebuah kertas besar dari Romy Rafael bertuliskan kata “HELL”. Sedangkan sukarelawan yang kedua mendapat kertas besar juga dari Denny Darko dengan tulisan “BLESS”. Apa yang terjadi pada kedua orang tersebut?

Orang pertama pada awalnya mempunyai frekuensi gelombang otak 2 Hz. Setelah mendapat kertas dengan tulisan “HELL”, frekuensi gelombang otaknya seketika naik menjadi gelombang Theta dengan frekuensi 5 Hz. Emosinya juga menjadi bertambah stres dan negatif dengan frekuensi 5 Hz juga.

Hasil analisis Energi 5 Elemen menunjukkan bahwa kata “HELL” mempunyai energi negatif pada dua elemen, yaitu elemen kedua Air dan elemen pertama Bumi. Orang bisa menderita sakit pada organ elemen Air seperti darah dan pencernaan bila terus-menerus mengingat kata “HELL” selama 3 hari. Setelah pertunjukan selesai dan orang tersebut turun, ternyata frekuensi gelombang otaknya masih 5 Hz dan baru bisa berubah kembali ke kondisi semula setelah tiga jam.

Orang kedua pada awalnya juga mempunyai frekuensi gelombang otak 2 Hz. Setelah mendapat kertas dengan tulisan “BLESS”, frekuensi gelombang otaknya juga seketika berubah, tetapi turun menjadi gelombang Epsilon dengan frekuensi 1/5 Hz. Emosinya juga berubah menjadi lebih bahagia dengan frekuensi 1/5 Hz.

Hasil analisis Energi 5 Elemen menunjukkan bahwa kata “BLESS” mempunyai energi positif pada empat elemen, yaitu pada elemen kelima Ether, elemen keempat Udara, elemen ketiga Api, dan elemen kedua Air.

Orang mulai merasa bahagia ketika mengingat kata “BLESS”. Selanjutnya, organ-organ pada elemen Ether seperti amandel, tiroid, dan getah bening bisa bertambah sehat setelah orang terus mengingat kata “BLESS” selama lima hari. Demikian pula jantung dan paru-paru pada elemen Udara, dan organ-organ tubuh lainnya.

Ketika pertunjukan selesai, orang yang memegang kata “BLESS” ini frekuensi gelombang otaknya masih 1/5 Hz, dan baru berangsur berubah kembali ke kondisi semula setelah tiga jam.

 

Indeks Manfaat Kata ‘Anda Luar Biasa’

Teman saya Edy Zaqeus, membuat sebuah web motivasi yang bernama AndaLuarBiasa.com. Bagaimana efek positif dari kata “Anda Luar Biasa”? Dari analisis Energi 5 Elemen, “Luar Biasa” mempunyai efek positif pada dua elemen, yaitu elemen kedua Air dan elemen pertama Bumi. Tetapi, setelah digabung menjadi “Anda Luar Biasa”, kata ini mempunyai efek positif pada lima elemen, yaitu elemen kelima Ether, elemen keempat Udara, elemen ketiga Api, elemen kedua Air, dan elemen pertama Bumi. Indeks Manfaat pada masing-masing elemen bernilai +5, sehingga Indeks Manfaat keseluruhan bernilai +25.

Indeks Manfaat positif pada elemen Bumi membuat kita menjadi lebih stabil. Elemen Air yang positif membuat orang lebih mudah berkomunikasi dan bekerja sama. Elemen Api positif membuat kita menjadi lebih bersemangat. Indeks Manfaat positif pada elemen Udara membuat kita menjadi lebih kreatif. Sedangkan elemen Ether yang positif akan membuat kita menjadi lebih bahagia, lebih rileks, lebih mudah mendapat inspirasi, dan ide-ide baru.

Ternyata, kata “Anda” telah membuat “Luar Biasa” menjadi lebih luar biasa lagi.

Oleh sebab itu, kita perlu berhati-hati dalam memilih kata-kata yang akan digunakan. Hal ini akan memengaruhi kesehatan dan kebahagiaan kita, keluarga, maupun orang lain. Pemilihan kata yang tidak tepat akan membuat kita tidak sehat, sedangkan pemilihan kata positif yang tepat akan membuat kita lebih sehat dan bahagia.

Empat Kategori Gelombang Otak Manusia

 

Bila direkam dengan menggunakan alat perekam gelombang otak, EEG (Elektroensefalogram), otak manusia memancarkan gelombang sesuai kondisi jiwa seseorang. Gelombang otak tersebut dibagi menjadi :

1. Beta (14-100 Hz)
Dalam frekuensi ini seseorang sedang dalam kondisi terjaga atau sadar penuh dan didominasi oleh logika. Saat seseorang berada di gelombang ini, otak (kiri) sedang aktif digunakan untuk berfikir, konsentrasi, dan sebagainya, sehingga gelombangnya meninggi. Gelombang tinggi ini merangsang otak mengeluarkan hormon kortisol dan norefinefrin yang menyebabkan cemas, khawatir, marah, dan stres. Akibat buruknya, beberapa gangguan penyakit mudah datang kalau kita terlalu aktif di gelombang ini.

2. Alfa (8-13,9 Hz)
Orang yang sedang rileks, melamun, atau berkhayal gelombang otaknya berada dalam frekuensi ini. Kondisi ini merupakan pintu masuk atau akses ke perasaan bawah sadar, sehingga otak akan bekerja secara optimal. Anak-anak balita gelombang otaknya selalu dalam keadaan Alfa, sehingga mereka mampu menyerap informasi secara cepat.

Dalam kondisi ini, otak memproduksi hormon serotonin dan endorfin yang menyebabkan seseorang merasakan nyaman, tenang, dan bahagia. Hormon ini membuat imunitas tubuh meningkat, pembuluh darah terbuka lebar, detak jantung menjadi stabil, dan kapasitas indera kita meningkat.

3. Theta (4-7,9 Hz)
Pancaran frekuensi gelombang ini menunjukkan seseorang sedang dalam kondisi mimpi. Dalam kondisi ini pikiran menjadi sangat kreatif, inspiratif, dan kita berada dalam kondisi khusyuk, rileks yang dalam, ikhlas, pikiran sangat hening, indera keenam atau intuisi muncul. Itu semua tejadi karena otak mengeluarkan hormon melatonin, catecholamine, dan APV (arginine-vasopressin).

4. Delta (0,1-3,9 Hz)
Frekuensi terendah ini memancar saat seseorang tertidur pulas tanpa mimpi, tidak sadar, tidak bisa merasakan badan, tidak berpikir. Pada gelombang ini otak mengeluarkan HGH (Human Growth Hormone) yang bisa membuat orang awet muda.

Bila seseorang tidur dalam keadaan Delta yang stabil, kualitas tidurnya sangat tinggi. Meski hanya beberapa menit tertidur, ia akan bangun dengan tubuh tetap segar. Jadi jangan heran bila di sekitar Anda ada orang yang jarang tidur tetapi kondisi badannya sangat fit.

(Sumber : Quantum Ikhlas Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati-Erbe Sentanu, Elex Media Komputindo)

Logika

 

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Filosofi

Philbar.png

Portal  

Le Penseur, atau “Sang Pemikir”, oleh Auguste Rodin, 1902.

Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah salah satu cabang filsafat.

Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur[1].

Ilmu di sini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal.

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Logika sebagai ilmu pengetahuan

Logika merupakan sebuah ilmu pengetahuan di mana obyek materialnya adalah berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran) dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya.

[sunting] Logika sebagai cabang filsafat

Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis di sini berarti logika dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Logika lahir bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk memasarkan pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya.

Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika. logika tidak bisa dihindarkan dalam proses hidup mencari kebenaran

[sunting] Dasar-dasar Logika

Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya. Dalam hal ini logika menjadi alat untuk menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan (premis). Logika silogistik tradisional Aristoteles dan logika simbolik modern adalah contoh-contoh dari logika formal.

Dasar penalaran dalam logika ada dua, yakni deduktif dan induktif. Penalaran deduktif—kadang disebut logika deduktif—adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif. Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya. Argumen deduktif dinyatakan valid atau tidak valid, bukan benar atau salah. Sebuah argumen deduktif dinyatakan valid jika dan hanya jika kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.

Contoh argumen deduktif:

  1. Setiap mamalia punya sebuah jantung
  2. Semua kuda adalah mamalia
  3. ∴ Setiap kuda punya sebuah jantung

Penalaran induktif—kadang disebut logika induktif—adalah penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.

Contoh argumen induktif:

  1. Kuda Sumba punya sebuah jantung
  2. Kuda Australia punya sebuah jantung
  3. Kuda Amerika punya sebuah jantung
  4. Kuda Inggris punya sebuah jantung
  5. ∴ Setiap kuda punya sebuah jantung

Tabel di bawah ini menunjukkan beberapa ciri utama yang membedakan penalaran induktif dan deduktif.

Deduktif Induktif
Jika semua premis benar maka kesimpulan pasti benar Jika premis benar, kesimpulan mungkin benar, tapi tak pasti benar.
Semua informasi atau fakta pada kesimpulan sudah ada, sekurangnya secara implisit, dalam premis. Kesimpulan memuat informasi yang tak ada, bahkan secara implisit, dalam premis.

[sunting] Sejarah Logika

[sunting] Masa Yunani Kuno

Logika dimulai sejak Thales (624 SM548 SM), filsuf Yunani pertama yang meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita isapan jempol dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam semesta.

Thales mengatakan bahwa air adalah arkhe (Yunani) yang berarti prinsip atau asas utama alam semesta. Saat itu Thales telah mengenalkan logika induktif.

Aristoteles kemudian mengenalkan logika sebagai ilmu, yang kemudian disebut logica scientica. Aristoteles mengatakan bahwa Thales menarik kesimpulan bahwa air adalah arkhe alam semesta dengan alasan bahwa air adalah jiwa segala sesuatu.

Dalam logika Thales, air adalah arkhe alam semesta, yang menurut Aristoteles disimpulkan dari:

  • Air adalah jiwa tumbuh-tumbuhan (karena tanpa air tumbuhan mati)
  • Air adalah jiwa hewan dan jiwa manusia
  • Air jugalah uap
  • Air jugalah es

Jadi, air adalah jiwa dari segala sesuatu, yang berarti, air adalah arkhe alam semesta.

Sejak saat Thales sang filsuf mengenalkan pernyataannya, logika telah mulai dikembangkan. Kaum Sofis beserta Plato (427 SM347 SM) juga telah merintis dan memberikan saran-saran dalam bidang ini.

Pada masa Aristoteles logika masih disebut dengan analitica , yang secara khusus meneliti berbagai argumentasi yang berangkat dari proposisi yang benar, dan dialektika yang secara khusus meneliti argumentasi yang berangkat dari proposisi yang masih diragukan kebenarannya. Inti dari logika Aristoteles adalah silogisme.

Buku Aristoteles to Oraganon (alat) berjumlah enam, yaitu:

  1. Categoriae menguraikan pengertian-pengertian
  2. De interpretatione tentang keputusan-keputusan
  3. Analytica Posteriora tentang pembuktian.
  4. Analytica Priora tentang Silogisme.
  5. Topica tentang argumentasi dan metode berdebat.
  6. De sohisticis elenchis tentang kesesatan dan kekeliruan berpikir.

Pada 370 SM288 SM Theophrastus, murid Aristoteles yang menjadi pemimpin Lyceum, melanjutkan pengembangn logika.

Istilah logika untuk pertama kalinya dikenalkan oleh Zeno dari Citium 334 SM226 SM pelopor Kaum Stoa. Sistematisasi logika terjadi pada masa Galenus (130 M201 M) dan Sextus Empiricus 200 M, dua orang dokter medis yang mengembangkan logika dengan menerapkan metode geometri.

Porohyus (232305) membuat suatu pengantar (eisagoge) pada Categoriae, salah satu buku Aristoteles.

Boethius (480524) menerjemahkan Eisagoge Porphyrius ke dalam bahasa Latin dan menambahkan komentar- komentarnya.

Johanes Damascenus (674749) menerbitkan Fons Scienteae.

[sunting] Abad pertengahan dan logika modern [2]

Pada abad 9 hingga abad 15, buku-buku Aristoteles seperti De Interpretatione, Eisagoge oleh Porphyus dan karya Boethius masih digunakan.

Thomas Aquinas 12241274 dan kawan-kawannya berusaha mengadakan sistematisasi logika.

Lahirlah logika modern dengan tokoh-tokoh seperti:

  • Petrus Hispanus (12101278)
  • Roger Bacon (12141292)
  • Raymundus Lullus (12321315) yang menemukan metode logika baru yang dinamakan Ars Magna, yang merupakan semacam aljabar pengertian.
  • William Ocham (12951349)

Pengembangan dan penggunaan logika Aristoteles secara murni diteruskan oleh Thomas Hobbes (15881679) dengan karyanya Leviatan dan John Locke (16321704) dalam An Essay Concerning Human Understanding

Francis Bacon (15611626) mengembangkan logika induktif yang diperkenalkan dalam bukunya Novum Organum Scientiarum.

J.S. Mills (18061873) melanjutkan logika yang menekankan pada pemikiran induksi dalam bukunya System of Logic

Lalu logika diperkaya dengan hadirnya pelopor-pelopor logika simbolik seperti:

  • Gottfried Wilhelm Leibniz (16461716) menyusun logika aljabar berdasarkan Ars Magna dari Raymundus Lullus. Logika ini bertujuan menyederhanakan pekerjaan akal budi dan lebih mempertajam kepastian.
  • George Boole (18151864)
  • John Venn (18341923)
  • Gottlob Frege (18481925)

Lalu Chares Sanders Peirce (18391914), seorang filsuf Amerika Serikat yang pernah mengajar di John Hopkins University,melengkapi logika simbolik dengan karya-karya tulisnya. Ia memperkenalkan dalil Peirce (Peirce’s Law) yang menafsirkan logika selaku teori umum mengenai tanda (general theory of signs)

Puncak kejayaan logika simbolik terjadi pada tahun 19101913 dengan terbitnya Principia Mathematica tiga jilid yang merupakan karya bersama Alfred North Whitehead (18611914) dan Bertrand Arthur William Russel (18721970).

Logika simbolik lalu diteruskan oleh Ludwig Wittgenstein (18891951), Rudolf Carnap (18911970), Kurt Godel (19061978), dan lain-lain.

[sunting] Logika sebagai matematika murni

Logika masuk ke dalam kategori matematika murni karena matematika adalah logika yang tersistematisasi. Matematika adalah pendekatan logika kepada metode ilmu ukur yang menggunakan tanda-tanda atau simbol-simbol matematik (logika simbolik). Logika tersistematisasi dikenalkan oleh dua orang dokter medis, Galenus (130-201 M) dan Sextus Empiricus (sekitar 200 M) yang mengembangkan logika dengan menerapkan metode geometri.

Puncak logika simbolik terjadi pada tahun 19101913 dengan terbitnya Principia Mathematica tiga jilid yang merupakan karya bersama Alfred North Whitehead (18611914) dan Bertrand Arthur William Russel (18721970).

[sunting] Kegunaan logika

  1. Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.
  2. Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
  3. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
  4. Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis
  5. Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpkir, kekeliruan, serta kesesatan.
  6. Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
  7. Terhindar dari klenik , gugon-tuhon ( bahasa Jawa )
  8. Apabila sudah mampu berpikir rasional,kritis ,lurus,metodis dan analitis sebagaimana tersebut pada butir pertama maka akan meningkatkan citra diri seseorang.

[sunting] Macam-macam logika

[sunting] Logika alamiah

Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif. Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir. Logika ini bisa dipelajari dengan memberi contoh penerapan dalam kehidupan nyata.

[sunting] Logika ilmiah

Logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran, serta akal budi.

Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah, dan lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, dikurangi.

Tersesat Tanpa Sadar

Apabila kita telah yakin berada di atas jalan yang benar, diatas Sunnah dan Qur’an, maka tetaplah waspada! Jangan cepat merasa aman. Seiring berjalannya waktu dan kehidupan dunia ini, bisa jadi kita telah menyimpang tanpa sadar dari jalan yang benar.Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa di antara ciri-ciri kehidupan manusia di akhir zaman (tanda-tanda hari Kiamat) adalah munculnya fitnah (ujian/cobaan) besar berupa bercampuraduknya kebenaran dan kebathilan. Iman menjadi goyah, sehingga seseorang beriman pada pagi hari dan menjadi kafir pada sore hari, beriman pada sore hari dan menjadi kafir pada pagi hari.Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Bersegeralah kalian melakukan amal shalih (sebelum datangnya) fitnah-fitnah bagaikan malam yang gelap gulita, seseorang dalam keadaan beriman di pagi hari dan menjadi kafir di sore hari, atau di sore hari dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari, dia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR. Muslim, no. 186)Godaan Dunia Paling Merusak ManusiaKekhawatiran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam akan bahaya godaan kesenangan dunia sehingga seorang manusia mau (sadar atau tanpa sadar) ’menjual’ agamanya, tercermin dalam salah satu sabda beliau :“Bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian akan tetapi yang aku khawatirkan atas kalian adalah dunia.” (HR Bukhari dan Muslim dari shahabat Amr bin Auf).Beliau juga bersabda:“Bukan kesyirikan yang aku khawatirkan atas kalian, akan tetapi yang aku khawatirkan atas kalian adalah perhiasan kehidupan dunia. (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih beliau 6196 dan Imam Muslim no 2296 dari sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir. Adapun riwayat dengan lafadz (masy syirku’). Wallahu a’lam, tidak terdapat dalam lafadz keduanya. Atau mungkin salah dalam mendengarnya, yang ada adalah lafadz di atas).Berhati-hatilah kamu, karena tidak akan ada sekaligus pada diri seseorang rasa cinta kepada ilmu dan cinta kepada dunia. Namun, yang terjadi adalah apabila rasa cinta kepada dunia mendominasi, maka rasa cinta kepada ilmu akan menyingkir, begitupun sebaliknya. Maka jika cintamu terhadap dunia mendominasi pada dirimu, kamu pasti akan meninggalkan ilmu dan kamu akan menyia-nyiakan dirimu. (Syaikh Muhammad Ali Imam berkata : “Masuk ke dalam dunia adalah mudah sekali, namun keluar darinya sungguh sangat sulit.”)Betapa banyak orang yang telah hilang sia-sia padahal dulunya mereka adalah penuntut ilmu dan sangat rajin menyempurnakan ibadahnya, tapi kemudian ia bergantung kepada dunia, akhirnya hilang dan menjadi orang yang tidak berguna.Godaan Harta dan Kedudukan Bermula Dari Sifat AmbisiusDalam Sunan Abu Dawud dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalaam:“Berhati-hatilah kalian dari syuh (ambisi), karena hal itu menghancurkan orang yang sebelum kalian. Memerintahkan mereka untuk memutus hubungan silaturrahmi, maka mereka memutusnya. Memerintahkan mereka untuk tidak berinfak, mereka pun tidak berinfak. Memerintahkan mereka untuk berbuat jahat, mereka pun berbuat jahat.”Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalaam memberitakan bahwa syuh (ambisi) itu memaksa manusia untuk memutuskan hubungan silaturrahmi, melakukan kejahatan, dan kebakhilan (kikir).Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalaam bersabda:“Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepaskan dalam sekawanan kambing akan menyebabkan daya rusak (bagi kawanan kambing tersebut) yang lebih besar dibanding daya rusak terhadap agama seseorang akibat ambisinya terhadap harta dan kedudukan” (Diriwayatkan dari putra Ka’b bin Malik dari ayahnya, Hadits Shahih, HR. Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Hibban. Lihat Shahih At-Targhib Wat Tarhib no. 1710)Makna hadits ini, kerusakan yang ditimbulkan oleh dua ekor serigala lapar yang dibiarkan bebas di antara sekawanan kambing masih belum seberapa apabila dibandingkan kerusakan yang muncul karena ambisi seseorang untuk mendapatkan kekayaan dan kedudukan. Karena, ambisi untuk mendapatkan harta dan kedudukan akan mendorong seseorang untuk mengorbankan agamanya. Adapun harta, dikatakan merusak karena ia memiliki potensi untuk mendorongnya terjatuh dalam syahwat serta mendorongnya untuk berlebihan dalam bersenang-senang dengan hal-hal mubah. Sehingga akan menjadi kebiasaannya. Terkadang ia terikat dengan harta lalu tidak dapat mencari dengan cara yang halal, akhirnya ia terjatuh dalam perkara syubhat (meragukan/ berpotensi bahaya). Ditambah lagi, harta akan melalaikan seseorang dari zikrullah. Hal-hal seperti ini tidak akan terlepas dari siapapun.Daya rusak ambisi terhadap harta dan kedudukan akan melalui dua langkah yang berjalan dengan mulus, tanpa sadar, tiba-tiba manusia telah tersesat jauh dari agamanya (menyimpang tanpa sadar) , yaitu :Mula-mula, rasa cinta harta dan kedudukan yang membuat seseorang sangat berupaya mencarinya dari jalan-jalannya yang mubah (halal tapi tak ada manfaatnya) namun sangat serius dalam memperolehnya dari berbagai jalannya, dengan getol dan bersusah payah.Dalam kondisi atau tahap ini ambisinya mungkin belum berakibat buruk yang nyata, kecuali sekadar menyia-nyiakan umurnya, yang semestinya dapat ia manfaatkan untuk memperoleh derajat yang tinggi dan kenikmatan akhirat yang kekal. Umurnya dihabiskan secara sia-sia dengan ambisi dalam mencari rezeki, yang sebenarnya rezeki telah dijamin dan dibagi-bagikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal seseorang tidak mendapatkan rezeki melainkan sesuai dengan apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala takdirkan untuknya. Seorang yang berambisi menyia-nyiakan waktunya yang mulia dan berspekulasi dengan dirinya…Kemudian, ambisi terhadap harta dan kedudukan telah berkembang jauh dari yang tadinya menggunakan jalan-jalan halal yang mubah kemudian mulai menggunakan jalan-jalan yang haram dan tidak menunaikan hak yang wajib. Ini termasuk syuh (ambisi) yang tercela.Ketika ambisi kepada harta itu sampai kepada derajat semacam ini, maka dengan ini agama seseorang akan dengan nyata terkurangi. Karena ia tidak melaksanakan kewajiban dan malah melakukan yang haram, yang menyebabkan menurunnya agama seseorang tanpa diragukan sehingga tidak tersisa lagi kecuali sedikit. (Syarh Hadits Ma Dzi’bani Ja’i’ani)Perkara yang terpenting bagi seorang hamba adalah menjaga agamanya. Serta merasa rugi apabila muncul kekurangan di dalam menjalankan agama. Cinta seorang hamba terhadap harta dan kedudukan, upaya yang ia tempuh untuk mendapatkannya, ambisi untuk meraih harta dan kedudukan, serta kerelaan bersusah-payah untuk mengalahkan, hanya akan menyebabkan kehancuran agama dan runtuhnya sendi-sendi agamanya. Simbol-simbol agama akan terhapus. Bangunan-bangunan agamanya pun akan roboh. Ditambah lagi bahaya yang akan ia hadapi karena menempuh sebab-sebab kebinasaan.Waspadalah!

“NEUROLOGIS” KEBODOHAN

Sebelum saya menjelaskan apa itu neurologis kebodohan dan bagaimana terbentuknya, serta dampaknya terhadap pengembangan diri, saya terlebih dahulu menjelaskan arti kata neurologis itu sendiri. Yang saya maksud dengan neurologis itu berhubungan dengan syaraf otak. Dalam hal ini bagaimana syaraf otak bekerja dalam merespon sebuah stimuli dari luar. Otak kalau dirangsang (distimuli) akan bekerja sesuai dengan pola yang sudah terlatih (kebiasaannya).

Contoh yang paling klasik adalah penelitian Pavlov terhadap anjing-ajingnya. Dalam percobaannya, Pavlov memberikan makanan kepada hewan piaraannya itu. Setiap kali ia memberikan makanan kepada anjingya, ia membunyikan bunyian tertentu, katakanlah kentongan. Dengan bunyi kentongan tertentu, anjing-anjing sudah paham bahwa mereka mendapatkan makan. Begitu kentong dibunyikan anjing-anjing berdatangan.

Suatu kali, Pavlov membunyikan kentongannya dengan tidak membawa makanan anjing. Meski demikian, anjing-anjing tetap berdatangan dengan mengeluarkan air liur pertanda lapar. Itulah neurologis, syaraf secara otomatis merespon dengan pola tindakan tertentu (kebiasaan) karena diakukan berulang-ulang.

Pola kerja neurologis juga sama dengan apabila kita masuk ke dalam sebuah ruang gelap–sebuah kamar katakanlah—maka secara otomatis syaraf otak kita bekerja untuk segera mencari saklar lampu. Kerja otomatis syaraf kita pada saat masuk kamar gelap adalah tekan saklar lampu. Apabila suatu malam, tiba-tiba listrik mati secara otomatis kita mencari lilin atau korek. Korek bagi mereka yang biasa merokok, bagi yang tidak biasa mungkin lampu senter atau handphone. Pokoknya, syaraf akan menacari keotomatisannya.

Itulah neurologis, syaraf otak bekerja menurut program-program kebiasaannya secara otomatis. Masing-masing individu berbeda dalam merespon terhadap suatu hal yang sama di luar dirinya. Ada orang yang kalau lagi stres langsung istighfar dan berdoa mendekatkan diri pada Tuhannya, ada orang yang kalau lagi pusing malah lari ke sabu-sabu. Semua serba otomatis menurut kebiasaannya.

Perlu kita ketahui bahwa dalam alam pikir kita terdapat banyak sekali jalur neurologis yang serba otomatis. Dari jalur neurologis yang positif yang menjadikan seseorang cerdas, hingga jalur neurologis yang membodohkan. Jalur neurologist positif misalnya: waktu senggang berarti baca/belajar/nulis; sulit dalam belajar berarti harus belajar lebih tekun; masalah berarti kesempatan pendewasaan diri dan stres berarti mendekatkan diri kepada Allah. Jalur negatif seperti: ujian berarti nyontek, prestasi karir berarti jalan pintas, kuliah berarti gelar dan stres berarti sabu-sabu. Bila itu dilakukan secara otomatis, tanpa ada pertimbangan lagi, dan membiasa dalam diri seseorang maka disebut peristiwa neurologis.

Selanjutnya, yang dimaksud dengan neurologis kebodohan berarti bagaimana syaraf kita membentuk jalur-jalur otomatis kebodohan (seotomatis pada saat kita masuk lamar gelap dan saklar lampu) sehingga kita menjadi tetap bodoh. Neurologis kebodohan bukan berarti syarafnya atau intelegensinya rendah, melainkan karena jalur-jalur otomatis yang keliru sehingga kita tetap bodoh.

Apabila kita bodoh akan suatu suatu hal, kemungkinan besar bukan karena tingkat itelegensia kita yang rendah, namun lebih karena pola kerja syaraf otak (neurologis) yang otomatis itu. Bukan karena tingkat intelegisia Anda yang “telmi” (telat mikir) sehingga Anda tidak bisa berbahasa Inggris misalnya, tetapi karena Anda sudah terlanjur membuat perangkap neurologis yang keliru atau membodohkan. Anda tidak bisa berbahasa Inggris—dan sejumah tidak bisa lainnya—bukan karena “lemot” (lemah otak) tetapi karena Anda sudah terlanjur membangun “jalur otomatis” untuk menghindari kesulitan belajar Bahasa Inggris. Kongkritnya, begitu Anda bertemu dengan pelajaran Bahasa Inggris otomatis menghindarinya dan mencari kegiatan lain yang sudah biasa dilakukan. Begitu seterusnya, sehingga menjadi pola kerja otomatis pikiran, seotomatis kamar gelap dan saklar lampu.

Bila jalan menghindar itu ibarat “jalur otomatis” menuju kebodohan, sudah berapa banyak jalur yang kita miliki? Semakin banyak jalur itu, maka semakin bodoh intelegensi Anda. Sebab, dengan jalur khusus neurologis itu nyaris menjadikan intelegensi Anda tidak pernah diberi kesempatan lagi untuk mengembangkan dirinya. Bagaimana itelegensi Anda akan bekembang kalau belum apa-apa Anda sudah menghindar dengan full speed melalui jalur khusus itu? Bagaimana kemampuan Bahasa Inggris Anda bisa berkembang kalau belum apa-apa Anda sudah lari kencang menghindarinya?

Seseorang menjadi lebih bodoh dari yang semestinya pintar tidak lain karena terlalu sering membangun jalur khusus kebodohan, atau neurologis kebodohan. Bukan saja kasus “bodoh” dalam bahasa Inggris saja, tetapi dalam banyak hal seseorang cenderung lebih banyak membangun jalur khusus neurologis kebodohan dari pada membangun jalur neurologis kecerdasan. Kita lebih suka menghindari kesulitan belajar, dari pada menghadapinya. Kita lebih suka membuat jalur kebodohan dengan cara menghindari kesulitan dari pada membangun jalan kecerdasan dengan dengan cara berdisiplin dan bertekun misalnya.

Bagaimana proses terjadinya jalur neurologis kebodohan dalam diri kita? Proses terjadinya neurologis kebodohan berawal dari pencarian jalan keluar (alternatif) yang aman dan nyaman dari setiap menghadapi masalah. Entah itu masalah belajar, atau masalah lainnya. Awalnya seseorang memang hanya mencari jalan alternatif dari sebuah kemelut kesulitan belajar Bahasa Inggris dengan cara membolos misalnya. Ternyata dengan cara seperti itu ia mendapatkan “nikmat” dan “manfaat” (tenang, tidak pusing), maka selanjutnya ia mengulang perilakunya. Terlebih banyak orang yang melakukannya, maka semakin termotivasi untuk mengulangnya.

 

Proses neurologis, baik neurologis kebodohan dan neurologis lainnya, identik dengan proses terjadinya neurologis kecanduan sabu-sabu. Berawal dari kemelut masalah, seseorang mencoba mencari jalan keluar. Ada jalan pintas yang menjadikan dirinya merasa “aman” dan “nyaman”, yakni sabu-sabu. Begitu datang masalah, ia mengulangi tindakannya itu. Frekuensi dan intensitas tindakannya semakin membekas seperti “jalan tol”, yaitu jalan otomatis ketika menghadapi masalah yang sama. Begitu masalah tiba, secara otomatis lari ke sabu-sabu.

Marden (2006) mengilustrasikan proses terbentuknya sebuah kebiasaan neurologis dengan tepat: “Awal dari suatu kebiasaan adalah ibarat benang yang tidak kelihatan, tetapi setiap kali kita ulangi tindakan itu, kita telah memperkuat benangnya, kita menambahkan serat lagi kepadanya, hingga menjadi kabel yang tebal dan mengikat pikiran dan tindakan kita yang tidak dapat ditarik kembali.”

Itulah neurologis. Proses terjadinya melalui tindakan yang berulang (kebiasaan). Penciptanya adalah diri kita masing-masing. Proses terjadinya neurologis kebodohan bisa datang dari orang lain. Dalam kasus ini, orang lain sperti: guru, teman, orangtua, kolega dan lain-lain, sangat berpotensi sebagai penyebab terbentuknya neurologis kebodohan. Bila mereka kepada seorang anak sering melontarkan umpatan: “Kamu bodoh, kamu bodoh…!”, maka cepat atau lambat si anak itu membuat persepsi bahwa dirinya adalah anak bodoh. Intensitas dan frkuensi makian itu yang datangnya dari banyak orang dan lingkungan, segera membekas menjadi sebuah jalur neurologis dan diyakini oleh si anak bahwa dirinya bodoh.

Salah satu sifat kerja pikiran adalah mencatat, merekam dan menyimpan segala informasi yang masuk. Sebuah informasi akan membekas menjadi jalur neurologis atau tidak sangat tergantung pada intensitas dan frekuensinya. Semakin sering, semakin membekas, dan semakin menjengkelkan, malah semakin membekas. Bila Anda membenci akan sebuah iklan, jusrtu itulah iklan yang baik secara neurologis: ingat terus. Demikian halnya dengan umpatan “Kamu bodoh!” pada anak-anak.

Ini tidak edukatif sama sekali. Sebab, umpatan yang begitu intens akan segera membekas dan membentuk jalur neurologis kebodohan bagi si anak. Bila sudah demikian, pada saat si anak menghadapi kesulitan belajar, maka otomatis ia akan menggunakan jalur neurologis itu secara otomatis. Begitu ia menemukan masalah belajar (sulit misalnya) maka jalan penyelesaiannya adalah: “Aku tidak mungkin bisa menyelesaikannya karena aku adalah anak bodoh”.

 

Menurut Robbins (2006) ada enam langkah yang dapat ditempuh untuk mengatasi neurologis kebodohan. Langkah-langkah ini juga dapat digunakan oleh siapa saja yang mau merupakan kebiasaan negatif.

Pertama, putuskan bahwa Anda benar-benar ingin membuang neurologis itu.Pastikan bahwa Anda mau menggatinya segera sehingga Anda tidak lagi akibat buruk dan kerugian hidup dari neurologis kebodohan. Pastikan pula bahwa Anda siap menanggung resiko/tantangan yang menghadangnya dengan keputusan yang diambil.

Kedua, gunakan prinsip berubah sekarang atau sengsara selama hidup. Anda tidak akan pernah dapat ke luar dari neurologis kebodohan, bila tidak berubah hari ini. Berubah hari ini, berarti kepedihan, berarti rasa sakit dan kesengsaraan. Tetapi jauh lebih pedih, lebih sakit, lebih sengsara dan memilukan lagi masa depan Anda bila hari ini tidak berubah. Hanya ada satu syarat agar kepedihan hari ini tidak terasa sakit, yakni dengan cara merasakan—seolah-olah—masa depan itu sudah di tangan. Kepedihan hari ini bukanlah rintangan bila mengingat kenikmatan yang akan diperoleh. Belajar tekun, serius dan berdisiplin memang menyakitkan, tapi lebih sakit lagi bila hidupnya menjadi manusia bodoh yang tidak ada manfaatnya dan merana sepanjang waktu.

Ketiga, interupsi polanya. Anda tidak akan pernah berubah bila masih mempertahankan pola lama. Disebut berubah bila polanya dienterupsi, dirubah atau minimal digeser meski serba sedikit. Apabila Anda selama ini pola neurologisnya “selalu menghindar dari kesulitan belajar Bahasa Inggris”, maka sesekali mencoba menghadapinya meski tidak nyaman. Bila masih sulit untuk menerimanya, coba sesekali lihat dan dengar cerita-cerita sukses betapa nikmatnya bisa berbahasa Inggris. Bila perlu mencoba merasakan seolah-olah Anda bisa berbahasa Inggris, sehingga banyak peluang karir lebih nikmat dan peluang mendapatkan beasiswa studi lanjut ke luar negeri.

 

Atau, bila selama ini Anda selalu menghindar untuk berolah raga, artinya pola hidup rutinnya tidak suka olah raga, lebih suka rileks dan banyak tidur, coba sesekali menikmati olah raga. Bila selama ini pola neurologisnya selalu mengatakan bahwa olah raga hanya buang-buang waktu, sesekali melihat dan mendengarkan orang-orang yang tubuhnya segar bugar, dan sehat walafiat karena rajin berolah raga. Bila perlu meyakinkan diri bahwa segala-galanya tanpa kesehatan tidak berarti apa-apa. Olah raga merupakan salah satu cara untuk mencapai kesehatan itu.

Keempat, ciptakan alternatif baru yang memberdayakan. Penginterupsian seperti pada langkah ketiga di atas, merupakan langkah “pemanasan” perubahan neurologis. Pada kondisi ini Anda berada di persimpangan jalan. Mau tetap di jalan lama yang berarti tetap terperangkap dalam kebodohan, atau jalan alternatif, jalan baru yang dapat memberdayakan diri Anda. Bila selama ini Anda berada jalan neurologis “nikmat membawa sengsara” maka saatnya beralih ke jalan (alternatif) neurologis “sengsara membawa nikmat selamanya”.Bila selama ini Anda berpelukan dengan kemalasan, maka saatnya sekarang berpeluk mesra dan penuh setia dengan ketekunan.

Kelima, kondisikan pola barunya hingga konsisten. Apabila Anda sekarang sudah mulai tertarik dengan jalan alternatif dengan segala hasil yang memberdayakan dan menggiurkan, tidaklah otomatis menjadi pola baru neurologis. Masih membutuhkan pengkondisian yang konsisten sehinga menjadi pola baru yang otomatis, seotomatis kamar gelap-saklar lampu. Pola baru ini akan menjadi konsisten, membiasa, apabila tindakannya secara berulang-ulang dengan intensitas emosional yang luar biasa.

Hukum penguatan mengatakan, “Pola emosi atau perilaku mana pun yang terus dikuatkan akan menjadi respon yang otomatis dan terkondisikan. Apa pun yang tidak kita kuatkan pada akhirnya akan menghilang” Ketekunan yang semula masih lemah pada ikatan neurologis Anda, akan segera menguat dan terkondisikan bila terus dilakukan berulang-ulang dengan intensitas emosinal yang luar biasa. Bila ketekunan sudah membiasa, sudah menjadi “jalan tol” yang nyaman dan nikmat dalam setiap menghadapi persoalan pembelajaran, maka Anda akan segera melupakan jalan lama (kemalasan). Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari yang terbiasa dengan ketekunan. Malah sekali saja melanggarnya, Anda segera mendapatkan teguran dari alam bawah sadar agar segera kembali ke neurologis ketekunan.

Keenam, ujilah. Apakah perubahan neurologis kebodohan (pola lama) ke neurologis kecerdasan (pola baru) benar-benar mendatangkan manfaat bagi hidup Anda. Bila manfaatnya jauh lebih besar dari pada tetap pada pola lama, maka pertahankan pola baru itu. Termasuk apakah pola baru itu tidak bertentangan dengan nilai, gaya hidup dan keyakinan Anda.

Kualitas hidup kita itu sesungguhnya tergantung pada pola-pola kerja neurologis. Semakin banyak kita memiliki pola kerja neurologis yang memberdayakan diri, semakin berkualitas hidup kita. Jangan dibiasakan membangun jalur-jalur neuorogis kebodohan, dan neurologis-neurologis lainnya yang hanya menjebak hidup kita.

“NEUROLOGIS” KEBODOHAN

Sebelum saya menjelaskan apa itu neurologis kebodohan dan bagaimana terbentuknya, serta dampaknya terhadap pengembangan diri, saya terlebih dahulu menjelaskan arti kata neurologis itu sendiri. Yang saya maksud dengan neurologis itu berhubungan dengan syaraf otak. Dalam hal ini bagaimana syaraf otak bekerja dalam merespon sebuah stimuli dari luar. Otak kalau dirangsang (distimuli) akan bekerja sesuai dengan pola yang sudah terlatih (kebiasaannya).

Contoh yang paling klasik adalah penelitian Pavlov terhadap anjing-ajingnya. Dalam percobaannya, Pavlov memberikan makanan kepada hewan piaraannya itu. Setiap kali ia memberikan makanan kepada anjingya, ia membunyikan bunyian tertentu, katakanlah kentongan. Dengan bunyi kentongan tertentu, anjing-anjing sudah paham bahwa mereka mendapatkan makan. Begitu kentong dibunyikan anjing-anjing berdatangan.

Suatu kali, Pavlov membunyikan kentongannya dengan tidak membawa makanan anjing. Meski demikian, anjing-anjing tetap berdatangan dengan mengeluarkan air liur pertanda lapar. Itulah neurologis, syaraf secara otomatis merespon dengan pola tindakan tertentu (kebiasaan) karena diakukan berulang-ulang.

Pola kerja neurologis juga sama dengan apabila kita masuk ke dalam sebuah ruang gelap–sebuah kamar katakanlah—maka secara otomatis syaraf otak kita bekerja untuk segera mencari saklar lampu. Kerja otomatis syaraf kita pada saat masuk kamar gelap adalah tekan saklar lampu. Apabila suatu malam, tiba-tiba listrik mati secara otomatis kita mencari lilin atau korek. Korek bagi mereka yang biasa merokok, bagi yang tidak biasa mungkin lampu senter atau handphone. Pokoknya, syaraf akan menacari keotomatisannya.

Itulah neurologis, syaraf otak bekerja menurut program-program kebiasaannya secara otomatis. Masing-masing individu berbeda dalam merespon terhadap suatu hal yang sama di luar dirinya. Ada orang yang kalau lagi stres langsung istighfar dan berdoa mendekatkan diri pada Tuhannya, ada orang yang kalau lagi pusing malah lari ke sabu-sabu. Semua serba otomatis menurut kebiasaannya.

Perlu kita ketahui bahwa dalam alam pikir kita terdapat banyak sekali jalur neurologis yang serba otomatis. Dari jalur neurologis yang positif yang menjadikan seseorang cerdas, hingga jalur neurologis yang membodohkan. Jalur neurologist positif misalnya: waktu senggang berarti baca/belajar/nulis; sulit dalam belajar berarti harus belajar lebih tekun; masalah berarti kesempatan pendewasaan diri dan stres berarti mendekatkan diri kepada Allah. Jalur negatif seperti: ujian berarti nyontek, prestasi karir berarti jalan pintas, kuliah berarti gelar dan stres berarti sabu-sabu. Bila itu dilakukan secara otomatis, tanpa ada pertimbangan lagi, dan membiasa dalam diri seseorang maka disebut peristiwa neurologis.

Selanjutnya, yang dimaksud dengan neurologis kebodohan berarti bagaimana syaraf kita membentuk jalur-jalur otomatis kebodohan (seotomatis pada saat kita masuk lamar gelap dan saklar lampu) sehingga kita menjadi tetap bodoh. Neurologis kebodohan bukan berarti syarafnya atau intelegensinya rendah, melainkan karena jalur-jalur otomatis yang keliru sehingga kita tetap bodoh.

Apabila kita bodoh akan suatu suatu hal, kemungkinan besar bukan karena tingkat itelegensia kita yang rendah, namun lebih karena pola kerja syaraf otak (neurologis) yang otomatis itu. Bukan karena tingkat intelegisia Anda yang “telmi” (telat mikir) sehingga Anda tidak bisa berbahasa Inggris misalnya, tetapi karena Anda sudah terlanjur membuat perangkap neurologis yang keliru atau membodohkan. Anda tidak bisa berbahasa Inggris—dan sejumah tidak bisa lainnya—bukan karena “lemot” (lemah otak) tetapi karena Anda sudah terlanjur membangun “jalur otomatis” untuk menghindari kesulitan belajar Bahasa Inggris. Kongkritnya, begitu Anda bertemu dengan pelajaran Bahasa Inggris otomatis menghindarinya dan mencari kegiatan lain yang sudah biasa dilakukan. Begitu seterusnya, sehingga menjadi pola kerja otomatis pikiran, seotomatis kamar gelap dan saklar lampu.

Bila jalan menghindar itu ibarat “jalur otomatis” menuju kebodohan, sudah berapa banyak jalur yang kita miliki? Semakin banyak jalur itu, maka semakin bodoh intelegensi Anda. Sebab, dengan jalur khusus neurologis itu nyaris menjadikan intelegensi Anda tidak pernah diberi kesempatan lagi untuk mengembangkan dirinya. Bagaimana itelegensi Anda akan bekembang kalau belum apa-apa Anda sudah menghindar dengan full speed melalui jalur khusus itu? Bagaimana kemampuan Bahasa Inggris Anda bisa berkembang kalau belum apa-apa Anda sudah lari kencang menghindarinya?

Seseorang menjadi lebih bodoh dari yang semestinya pintar tidak lain karena terlalu sering membangun jalur khusus kebodohan, atau neurologis kebodohan. Bukan saja kasus “bodoh” dalam bahasa Inggris saja, tetapi dalam banyak hal seseorang cenderung lebih banyak membangun jalur khusus neurologis kebodohan dari pada membangun jalur neurologis kecerdasan. Kita lebih suka menghindari kesulitan belajar, dari pada menghadapinya. Kita lebih suka membuat jalur kebodohan dengan cara menghindari kesulitan dari pada membangun jalan kecerdasan dengan dengan cara berdisiplin dan bertekun misalnya.

Bagaimana proses terjadinya jalur neurologis kebodohan dalam diri kita? Proses terjadinya neurologis kebodohan berawal dari pencarian jalan keluar (alternatif) yang aman dan nyaman dari setiap menghadapi masalah. Entah itu masalah belajar, atau masalah lainnya. Awalnya seseorang memang hanya mencari jalan alternatif dari sebuah kemelut kesulitan belajar Bahasa Inggris dengan cara membolos misalnya. Ternyata dengan cara seperti itu ia mendapatkan “nikmat” dan “manfaat” (tenang, tidak pusing), maka selanjutnya ia mengulang perilakunya. Terlebih banyak orang yang melakukannya, maka semakin termotivasi untuk mengulangnya.

 

Proses neurologis, baik neurologis kebodohan dan neurologis lainnya, identik dengan proses terjadinya neurologis kecanduan sabu-sabu. Berawal dari kemelut masalah, seseorang mencoba mencari jalan keluar. Ada jalan pintas yang menjadikan dirinya merasa “aman” dan “nyaman”, yakni sabu-sabu. Begitu datang masalah, ia mengulangi tindakannya itu. Frekuensi dan intensitas tindakannya semakin membekas seperti “jalan tol”, yaitu jalan otomatis ketika menghadapi masalah yang sama. Begitu masalah tiba, secara otomatis lari ke sabu-sabu.

Marden (2006) mengilustrasikan proses terbentuknya sebuah kebiasaan neurologis dengan tepat: “Awal dari suatu kebiasaan adalah ibarat benang yang tidak kelihatan, tetapi setiap kali kita ulangi tindakan itu, kita telah memperkuat benangnya, kita menambahkan serat lagi kepadanya, hingga menjadi kabel yang tebal dan mengikat pikiran dan tindakan kita yang tidak dapat ditarik kembali.”

Itulah neurologis. Proses terjadinya melalui tindakan yang berulang (kebiasaan). Penciptanya adalah diri kita masing-masing. Proses terjadinya neurologis kebodohan bisa datang dari orang lain. Dalam kasus ini, orang lain sperti: guru, teman, orangtua, kolega dan lain-lain, sangat berpotensi sebagai penyebab terbentuknya neurologis kebodohan. Bila mereka kepada seorang anak sering melontarkan umpatan: “Kamu bodoh, kamu bodoh…!”, maka cepat atau lambat si anak itu membuat persepsi bahwa dirinya adalah anak bodoh. Intensitas dan frkuensi makian itu yang datangnya dari banyak orang dan lingkungan, segera membekas menjadi sebuah jalur neurologis dan diyakini oleh si anak bahwa dirinya bodoh.

Salah satu sifat kerja pikiran adalah mencatat, merekam dan menyimpan segala informasi yang masuk. Sebuah informasi akan membekas menjadi jalur neurologis atau tidak sangat tergantung pada intensitas dan frekuensinya. Semakin sering, semakin membekas, dan semakin menjengkelkan, malah semakin membekas. Bila Anda membenci akan sebuah iklan, jusrtu itulah iklan yang baik secara neurologis: ingat terus. Demikian halnya dengan umpatan “Kamu bodoh!” pada anak-anak.

Ini tidak edukatif sama sekali. Sebab, umpatan yang begitu intens akan segera membekas dan membentuk jalur neurologis kebodohan bagi si anak. Bila sudah demikian, pada saat si anak menghadapi kesulitan belajar, maka otomatis ia akan menggunakan jalur neurologis itu secara otomatis. Begitu ia menemukan masalah belajar (sulit misalnya) maka jalan penyelesaiannya adalah: “Aku tidak mungkin bisa menyelesaikannya karena aku adalah anak bodoh”.

 

Menurut Robbins (2006) ada enam langkah yang dapat ditempuh untuk mengatasi neurologis kebodohan. Langkah-langkah ini juga dapat digunakan oleh siapa saja yang mau merupakan kebiasaan negatif.

Pertama, putuskan bahwa Anda benar-benar ingin membuang neurologis itu.Pastikan bahwa Anda mau menggatinya segera sehingga Anda tidak lagi akibat buruk dan kerugian hidup dari neurologis kebodohan. Pastikan pula bahwa Anda siap menanggung resiko/tantangan yang menghadangnya dengan keputusan yang diambil.

Kedua, gunakan prinsip berubah sekarang atau sengsara selama hidup. Anda tidak akan pernah dapat ke luar dari neurologis kebodohan, bila tidak berubah hari ini. Berubah hari ini, berarti kepedihan, berarti rasa sakit dan kesengsaraan. Tetapi jauh lebih pedih, lebih sakit, lebih sengsara dan memilukan lagi masa depan Anda bila hari ini tidak berubah. Hanya ada satu syarat agar kepedihan hari ini tidak terasa sakit, yakni dengan cara merasakan—seolah-olah—masa depan itu sudah di tangan. Kepedihan hari ini bukanlah rintangan bila mengingat kenikmatan yang akan diperoleh. Belajar tekun, serius dan berdisiplin memang menyakitkan, tapi lebih sakit lagi bila hidupnya menjadi manusia bodoh yang tidak ada manfaatnya dan merana sepanjang waktu.

Ketiga, interupsi polanya. Anda tidak akan pernah berubah bila masih mempertahankan pola lama. Disebut berubah bila polanya dienterupsi, dirubah atau minimal digeser meski serba sedikit. Apabila Anda selama ini pola neurologisnya “selalu menghindar dari kesulitan belajar Bahasa Inggris”, maka sesekali mencoba menghadapinya meski tidak nyaman. Bila masih sulit untuk menerimanya, coba sesekali lihat dan dengar cerita-cerita sukses betapa nikmatnya bisa berbahasa Inggris. Bila perlu mencoba merasakan seolah-olah Anda bisa berbahasa Inggris, sehingga banyak peluang karir lebih nikmat dan peluang mendapatkan beasiswa studi lanjut ke luar negeri.

 

Atau, bila selama ini Anda selalu menghindar untuk berolah raga, artinya pola hidup rutinnya tidak suka olah raga, lebih suka rileks dan banyak tidur, coba sesekali menikmati olah raga. Bila selama ini pola neurologisnya selalu mengatakan bahwa olah raga hanya buang-buang waktu, sesekali melihat dan mendengarkan orang-orang yang tubuhnya segar bugar, dan sehat walafiat karena rajin berolah raga. Bila perlu meyakinkan diri bahwa segala-galanya tanpa kesehatan tidak berarti apa-apa. Olah raga merupakan salah satu cara untuk mencapai kesehatan itu.

Keempat, ciptakan alternatif baru yang memberdayakan. Penginterupsian seperti pada langkah ketiga di atas, merupakan langkah “pemanasan” perubahan neurologis. Pada kondisi ini Anda berada di persimpangan jalan. Mau tetap di jalan lama yang berarti tetap terperangkap dalam kebodohan, atau jalan alternatif, jalan baru yang dapat memberdayakan diri Anda. Bila selama ini Anda berada jalan neurologis “nikmat membawa sengsara” maka saatnya beralih ke jalan (alternatif) neurologis “sengsara membawa nikmat selamanya”.Bila selama ini Anda berpelukan dengan kemalasan, maka saatnya sekarang berpeluk mesra dan penuh setia dengan ketekunan.

Kelima, kondisikan pola barunya hingga konsisten. Apabila Anda sekarang sudah mulai tertarik dengan jalan alternatif dengan segala hasil yang memberdayakan dan menggiurkan, tidaklah otomatis menjadi pola baru neurologis. Masih membutuhkan pengkondisian yang konsisten sehinga menjadi pola baru yang otomatis, seotomatis kamar gelap-saklar lampu. Pola baru ini akan menjadi konsisten, membiasa, apabila tindakannya secara berulang-ulang dengan intensitas emosional yang luar biasa.

Hukum penguatan mengatakan, “Pola emosi atau perilaku mana pun yang terus dikuatkan akan menjadi respon yang otomatis dan terkondisikan. Apa pun yang tidak kita kuatkan pada akhirnya akan menghilang” Ketekunan yang semula masih lemah pada ikatan neurologis Anda, akan segera menguat dan terkondisikan bila terus dilakukan berulang-ulang dengan intensitas emosinal yang luar biasa. Bila ketekunan sudah membiasa, sudah menjadi “jalan tol” yang nyaman dan nikmat dalam setiap menghadapi persoalan pembelajaran, maka Anda akan segera melupakan jalan lama (kemalasan). Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari yang terbiasa dengan ketekunan. Malah sekali saja melanggarnya, Anda segera mendapatkan teguran dari alam bawah sadar agar segera kembali ke neurologis ketekunan.

Keenam, ujilah. Apakah perubahan neurologis kebodohan (pola lama) ke neurologis kecerdasan (pola baru) benar-benar mendatangkan manfaat bagi hidup Anda. Bila manfaatnya jauh lebih besar dari pada tetap pada pola lama, maka pertahankan pola baru itu. Termasuk apakah pola baru itu tidak bertentangan dengan nilai, gaya hidup dan keyakinan Anda.

Kualitas hidup kita itu sesungguhnya tergantung pada pola-pola kerja neurologis. Semakin banyak kita memiliki pola kerja neurologis yang memberdayakan diri, semakin berkualitas hidup kita. Jangan dibiasakan membangun jalur-jalur neuorogis kebodohan, dan neurologis-neurologis lainnya yang hanya menjebak hidup kita.